PendahuluanIndonesia dikenal sebagai negara yang kaya budaya, sebagai wujud manifestasi keberagaman suku yang berada dari Sabang hingga Merauke. Budaya sebagai suatu pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak, dan luas, serta menjadi penentu perilaku komunikatif yang tertanam dalam berbagai kegiatan sosial manusia. Sebagai bangsa yang beradab, Indonesia menjunjung tinggi hakikat budaya sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, dan makna, yang diantaranya saling berkorelasi satu sama lain sebagai satu-kesatuan. Kesadaran masyarakat terhadap hakikat budaya khususnya nilai dan sikap, mendorong terjadinya kehidupan yang harmonis. Hal ini mengenalkan Indonesia sebagai negara yang berpegang teguh pada nilai “ketimuran” yang menjunjung tinggi toleransi, sopan santun, lemah lembut, dan sikap saling menolong sehingga memberikan gambaran nilai-nilai yang baik kepada generasi muda. Konsepsi budaya ketimuran yang sarat nilai moral secara perlahan mengalami pengikisan. Terjadinya modernisasi dalam berbagai segi kehidupan telah berdampak pada generasi muda yang mulai mengalami degradasi secara moral, tampak dari tutur kata, cara berpakaian, dan perilaku.Maraknya tawuran, pencurian, pelecehan seksual,pemerkosaan, hingga pembunuhan yang dilakukan oleh anak muda saat ini sangat memprihatinkan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan yang masih labil, sensitif, mudah terpengaruh, serta cenderung mudah melakukan perbuatan yang menyimpang dari nilai atau norma.Dewasa ini banyak sekali anak-anak di Indonesia yang kurang beruntung sehingga kehilangan keluarganya, sehingga mereka tidak jarang harus berjuang sendiri untuk sekedar hidup. Dengan hidup yang seperti ini sangat rawan akan masuknya pengaruh luar yang bersifat merugiakan salah satunya pergaulan bebas dan narkoba yang mengancam anak-anak kurang beruntung tersebut.Di Indonesia sendiri banyak terdapat lembaga khusus baik negeri (buatan pemerintah) ataupun swasta yang berfokus untuk menyelamatkan anak-anak yang tidak mempunyai keluarga atau yatim piatu, disana mereka dirawat, dididik, dan diajarkan mata pelajaran layaknya sekolah reguler, dengan tujuan supaya energi mereka tersalurkan ke hal-hal yang positif melalui kegiatan-kegiatan yang ada di lembaga masing-masing. Salah satunya adalah storytelling.Storytelling sangat berperan dalam membentuk karakter anak-anak. Dengan Storytelling anak-anak akan mendapatkan pengalaman seperti layaknya membaca cerita, bedanya di bacakan dengan antusias dan dengan semangat yang menggebu-gebu oleh storyteller yang dengan maksud dan tujuan tidak lain menumbuhkan karakter serta nilai dan moral kepada anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka, karena sejatinya anak-anak usia mereka belajar dan bersosialisasi bukan berjuang untuk sekedar hidup. Kebanyakan kegiatan di lembaga ini diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti Storytelling sehingga pembentukan karakter religius untuk anak-anak yatim menjadi fokus pembahasan.MetodeMetode storytelling atau bercerita merupakan metode yang tepat dalam memenuhi kebutuhan tersebut karena dalam cerita terdapat nilai-nilai yang dapat dikembangkan. Pengalaman dan kemampuan umat pun ikut diperhitungkan. Nilai Personal Menurut Siswanto (2008), mengatakan bahwa cerita itu mampu mengembangkan nilai personal apabila pesan yang disampaikan dapat: a) Memberikan kesenangan dan kenikmatan b) Mengembangkan imajinasi c) Memberikan pengalaman yang benar-benar dapat dihayati d) Mengembangkan pandangan ke arah perilaku manusia e) Menyuguhkan pengalaman-pengalaman yang bersifat universal.Nilai Edukatif/intelektual Siswanto juga menyebutkan bahwa cerita mengandung nilai edukatif, yaitu: a) Mengembangkan kemampuan berbahasa. b) Mengembangkan kemampuan membaca c) Mengembangkan kepekaan terhadap cerita d) Meningkatkan kemampuan menulis e) Membantu perkembangan aspek sosial. f) Membantu perkembangan aspek emosional. g) Membantu perkembangan aspek kreativitas. h) Membantu perkembangan aspek kognitifPengertian StorytellingMenurut Echols (dalam aliyah, 2011) storytelling terdiri atas dua kata yaitu story berarti cerita dan telling berarti penceritaan. Penggabungan dua kata storytelling berarti penceritaan cerita atau menceritakan cerita. Selain itu, storytelling disebut juga bercerita atau mendongeng seperti yang dikemukakan oleh Malan, mendongeng adalah bercerita berdasarkan tradisi lisan. Storytelling merupakan usaha yang dilakukan oleh pendongeng dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah cerita kepada anak-anak serta lisan.Sedangkan dalam Kamus Besar Indonesia (Ikranegarkata & Hartatik), cerita adalah kisah, dongeng, sebuah tutur yang melukiskan suatu proses terjadinya peristiwa secara panjang lebar, karangan yang menyajikan jalannya kejadiankejadian, lakon yang diwujudkan dalam pertunjukan (tentang drama, film, dan sebagainya).Disamping itu, storytelling sangat bermanfaat sekali bagi guru seperti halnya dikemukakan oleh Loban (dalam Aliyah, 2011) menyatakan bahwa storytelling dapat menjadi motovasi untuk mengembangkan daya kesadaran, memperluas imajinasi anak, orangtua atau menggiatkan kegiatan storytelling pada berbagai kesempatan seperti ketika anak-anak sedang bermain, anak menjelang tidur atau guru yang sedang membahas tema digunakan metode storytelling.Menurut Pellowski (dalam Nurcahyani, 2010) mendefinisikan storytelling sebagai sebuah seni atau seni dari sebuah keterampilan bernarasi dari cerita-cerita dalam bentuk syair atau prosa, yang dipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang di hadapan audience secara langsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan, dengan atau tanpa musik, gambar, ataupun dengan iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak, ataupun melalui sumber rekaman mekanik.Menurut Simanjuntak (2008) mengatakan bahwa semua orang menyukai cerita yang baik., baik dia kaya atau miskin, berpangkat atau rakyat jelata, orang dewasa ataupun anak-anak, semuanya menyukai cerita. Cerita merupakan alat yang ampuh untuk menyampaikan pengajaran, pesan maupun teguran. Namun demikian, cerita tidak terlepas dari segi inteleknya karena cerita juga berfungsi untuk memberi informasi. Melalui cerita seseorang akan mempelajari hal-hal, situasi, dan tempat-tempat yang belum pernah dijumpai sebelumnya.Menurut Bunanta (2009) menyatakan ada berbagai konsep storytelling yang dapat digunakan untuk mengajak anak membaca. Konsep storytelling dan bermain, storytelling sambil bermain musik, mengadakan festival storytelling dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, dan lain sebagainya. Dengan banyaknya konsep yang dapat diusung, storyteller atau pencerita dapat menampilkan cerita secara menarik dan kreatif sehingga siswa tidak merasa bosan. Belajar sambil bermain adalah suatu hal yang tidak pernah lepas dari seorang anak, hal inilah yang harus diingat oleh pencerita.Menurut Asfandiyar (2007) storytelling merupakan suatu proses kreatif anak-anak yang dalam perkembangannya, senantiasa mengaktifkan bukan hanya aspek intelektual saja tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, daya berfantasi, dan imajinasi anak yang tidak hanya mengutamakan kemampuan otak kiri tetapi juga otak kanan. Berbicara mengenai storytelling, secara umum semua anak-anak senang mendengarkan storytelling, baik anak balita, usia sekolah dasar, maupun yang telah beranjak remaja bahkan orang dewasa.Dalam menyampaikan storytelling ada berbagai macam jenis cerita yang dapat dipilih oleh pendongeng untuk didongengkan kepada audience. Sebelum acara storytelling dimulai, biasanya pendongeng telah mempersiapkan terlebih dahulu jenis cerita yang akan disampaikan agar pada saat mendongeng nantinya dapat berjalan lancar.Dalam hal ini, penulis menyebut bercerita atau storytelling sebagai tuturan tentang kisah fiktif dan nyata. Sementara itu, mendongeng yang merupakan bagian dari cerita adalah menuturkan cerita fiktif seperti fabel, kisah, atau legenda. Dongeng itu intinya hanya di kekuatan kata-kata. Dalam kasus penelitian yang dilakukan ini, jenis storytelling yang digunakan adalah cerita yang mempunyai misi pendidikan. Storytelling disini bukan hanya berfungsi sebagai sebagai hiburan semata tetapi juga memiliki muatan pendidikan di dalamnya.Analisis Pengamatan StorytellingPenulis mencoba menganalisis sebuah video Storytelling yang ada di laman YouTube, dengan link http://youtu.be/PTjyaWyEk-w/ berjudul “Kak Awam Pendongeng utk Rumah Zakat & KaDoCiL” yang dipublikasikan pada tanggal 16 Juli 2015 oleh akun Komuitas benama “Kampung Dongeng”. Video ini diadakan oleh Kampung Dongeng Cilegon bekerjasama dengan Rumah Zakat pada tanggal 13 Juli 2015 dalam rangka Memperingati Hari Anak Nasional dan Acara Buka Puasa Bersama.Di dalam video ini, Konsep storytelling dan bermain, storytelling sambil bermain musik, mengadakan festival storytelling dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, dan lain sebagainya. Dengan banyaknya konsep yang dapat diusung, storyteller atau pencerita dapat menampilkan cerita secara menarik dan kreatif sehingga siswa tidak merasa bosan. Belajar sambil bermain adalah suatu hal yang tidak pernah lepas dari seorang anak, hal inilah yang harus diingat oleh pencerita. Selain itu storytelling sebagai tuturan tentang kisah fiktif dan nyata. Sementara itu, mendongeng yang merupakan bagian dari cerita adalah menuturkan cerita fiktif seperti fabel, kisah, atau legenda. Dongeng itu intinya hanya di kekuatan kata-kata. Dalam kasus penelitian yang dilakukan ini, jenis storytelling yang digunakan adalah cerita yang mempunyai misi pendidikan. Storytelling disini bukan hanya berfungsi sebagai sebagai hiburan semata tetapi juga memiliki muatan pendidikan di dalamnya.Sang Pendongen Kak Awam menampilkan pertunjukan dongeng (storytelling) di atas panggung, berhadapan dengan puluhan anak usia 7-12 tahun selama lebih kurang 10 menit berdasarkan durasi video, menggunakan Audio, Musik, mengajak anak untuk berimajinasi, menggunakan lebih dari satu suara untuk memerankan lebih dari 3 karakter, menggunakan bahasa sehari-hari, mengajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam dongeng, interaktif, diselingi candaan agar anak-anak tidak bosan.Pesan yang coba disampaikan oleh Kak Awam dalam pentasnya adalah mengajak anak-anak untuk menjaga Lingkungan Hidup dengan cara menyayangi alam, menghargai lingkungan hidup, membiasakan kegiatan kecil tetapi bermanfaat seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan selokan, membakar sampah dsb.